Selasa, 21 Desember 2010

KESOMBONGAN

T A K A B U R
Sifat kekaguman dan membangga-banggakan diri dapat menimbulkan kesombongan dan keangkuhan terhadap orang lain.
Sifat ini adalah salah satu penyakit hati yang sangat mencelakakan dan sulit dihindari. Dalam al-Qur’an sudah tertera larangan dan ancaman serta bahaya yang akan ditimbulkan dari sifat takabur ini.
Jika seseorang sudah melekat pada sifat ini, maka segeralah mungkin untuk mengobatinya dan menghindarinya, karena sifat ini sangat merugikan diri sendiri maupun orang lain serta merugikan di dunia dan di akhirat.
1. Pengertian Takabur
Takabur yang biasa diartikan dengan “kesombongan”, berarti sifat dan sikap merendahkan orang lain dan bisa menolak al-haqq (kebenaran).
Takabur juga berupa rasa kekaguman terhadap diri, sikap suka membesar-besarkan dan menonjolkan diri. Takabur ini sendiri dicela oleh al-Qur’an:
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS. Luqman: 18)
Kekaguman terhadap diri bisa berakibat timbulnya sikap sombong dan angkuh terhadap orang lain, dan merendahkan serta meremehkan mereka dalam pergaulan. Dalam al-Qur’an banyak terdapat ayat-ayat yang mencela ketakaburan orang-orang musyrik dan munafik serta keengganan mereka untuk menerima kebenaran, karena rasa angkuh yang mereka miliki.
2. Hakikat Takabur
Sifat sombong dapat dikatakan perangai di dalam jiwa yang menunjukkan kepuasan, kesenangan dan kecenderungan kepada tingkatan (martabat) di atas orang lain yang dibohongi. Jadi, selain menyangkut orang pertama, (yang menyombongkan diri), sifat ini juga melibatkan orang kedua (yang dibohongi). Disinilah letak perbedaannya dengan sifat ujub yang tidak memerlukan orang lain sebagai objek. Bahkan, andaikata di dunia ini tidak ada orang, kecuali orang satu saja, kita dapat membayangkan bahwa ia sangat mungkin bersifat ujub. Tetapi, tidak demikian dengan sifat sombong. Kita tidak mungkin membayangkan terjadinya kesombongan tanpa keberadaan orang lain. Jadi, hakikat kesombongan itu baru terwujud bila seseorang mendapat tiga keyakinan di dalam dirinya, yaitu:
a. Ia melihat dirinya memiliki martabat
b. Ia melihat pada diri orang lain juga memiliki martabat
c. Bila ia menganggap martabatnya lebih tinggi dari pada orang lain.
Apabila tiga keyakinan di atas terdapat pada diri seseorang, berarti di dalam dirinya, telah tertanam sifat sombong. Hatinya akan menjadi takabur. Karena hal itulah, dihatinya timbul rasa gengsi, rasa berwibawa, juga kesenangan dan kecenderungan kepada yang diyakininya sebagai sesuatu yang besar. Kewibawaan, perasaan besar, kecenderungan kepada hal yang diyakini itulah perangai sifat sombong.
3. Sebab-sebab dan Macam-macam Takabur
Sebab-sebab yang menjadikan seseorang berlaku sombong (takabur) adalah merasa adanya kelebihan pada dirinya. Seperti ilmu pengetahuan, amal dan ibadah, keturunan orang terhormat, harta kekayaan, kekuatan fisik, kedudukan, kecantikan, ketampanan dan sebagainya.
Dalam realitasnya, takabur dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :
a. Takabur kepada Allah, seperti Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan. Takabur ini yang terjelek
b. Takabur kepada Rasul-Nya, seperti orang-orang Quraisy.
c. Takabur kepada sesamanya.
4. Hal-hal yang Membangkitkan Takabur
Ada empat hal yang dapat membangkitkan sifat takabur, diantaranya:
a. Sifat ujub
Sifat ini mewariskan keangkuhan di dalam diri yang setiap saat bisa muncul ke permukaan berupa kesombongan lahir dalam bentuk tindakan dan perilaku.
b. Sifat dendam (hiqd)
Terkadang yang menyebabkan kesombongan itu bukanlah sifat ujub, misalnya: orang yang menyombongkan dirinya atas orang yang menganggap dirinya sederajat dengannya atau malah melebihinya. Sering pula terjadi seseorang marah-marah karena persoalan lama yang membekaskan dendam di hatinya.
c. Sifat hasad (dengki)
Sifat ini melahirkan kebencian terhadap orang yang didengkinya meskipun penyebab yang menimbulkan marah dan dendamnya bukan berasal dari orang itu. Sifat hasad ini yang bercokol di dalam diri mendorong untuk senantiasa bersikap angkuh terhadap orang lain.
d. Sifat riya’
Sifat ini biasanya dapat menarik seseorang berperilaku sombong, sehingga terkadang terjadi perdebatan dengan orang lain. Sifat sombong yang dibangkitkan oleh riya’ ini hanya muncul berada di hadapan orang banyak.
5. Cara Mengatasi dan Melenyapkan Takabur
Takabur termasuk di antara sifat-sifat yang sangat mencelakakan dan sulit untuk dihindari. Hukum pemberantasannya adalah fardhu ‘ain bagi setiap individu.
Ada dua cara untuk memberantas sifat ini, yaitu:
a. Dengan mencabut batang pohonnya sampai ke akarnya yang menancap di hati.
Maksudnya: usaha ini tidak mungkin berhasil dengan sempurna kecuali dengan mengintensifkan ketakwaan untuk melenyapkan komponen dasarnya, dengan menempuh dua langkah, yaitu langkah ilmiah dan langkah amaliah.
1) Langkah ilmiah adalah dengan cara mengenali diri sendiri dengan kehinaannya, serta mengenali Tuhan dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Pada dasarnya dengan cara ini sudah cukup bagi seseorang untuk menghilangkan sifat takabur pada dirinya.
2) Langkah amaliah adalah merupakan bentuk praktis dalam menanggulangi sifat sombong, yakni tawadhu’ kepada Allah melalui amal perbuatan dan kepada semua makhluk-Nya dengan senantiasa berperilaku sebagaimana lazimnya orang-orang yang suka merendahkan diri.
b. Menangkal faktor penyebab yang menjadikan seseorang berlaku sombong atas orang lain.
Cara yang kedua ini dilakukan dengan cara memotong jalur tujuh sebab sombong, diantaranya:
1) Sombong karena keturunan, cara mengatasinya ada 2 cara;
a) Karena yang dibanggakan orang ini adalah orang lain dan kesempurnaannya, ada yang mengatakan bahwa orang seperti ini dianjurkan supaya berpaling kepada dirinya sendiri.
b) Menyadari bahwa orang tuanya hanya diciptakan dari air mani yang hina. Sedangkan asal mula keberadaan bangsanya adalah tercipta dari tanah.
2) Sombong karena kecantikan atau ketampanan, cara mengatasinya: dengan melihat kepada dirinya sendiri yakni kepada apa yang terkandung di dalam Tuhannya, bahwa hampir segala bagian terdapat kotoran.
3) Sombong karena kekuatan fisiknya, cara mengatasinya: menyadari bahwa dirinya selalu diintai oleh berbagai jenis penyakit dan dihantui oleh cacat.
4) Sombong karena ilmunya, cara mengatasinya: menyadari bahwa kesombongan ini hanya layak untuk Allah dan menyadari bahwa hujah Allah SWT.
5) Sombong karena harta kekayaan, cara mengatasinya: menyadari bahwa segala sesuatu yang dimiliki akan dilanda perubahan dan kehancuran.
6) Sombong karena banyak penggemar, cara mengatasinya: Menyadari bahwa semua itu merupakan kebodohan dan kekeliruan.
7) Sombong karena banyak amal dan ibadah, cara mengatasinya: memaksakan diri bersikap tawadhu’ terhadap semua makhluk sambil menyadari bahwa dibalik sifat sombong terpendam bahaya yang besar.
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat saya simpulkan bahwa takabur adalah sifat yang sulit dihindari. Namun kita harus menyadari bahwa kita adalah makhluk Tuhan yang diciptakan dengan tujuan tidak untuk menyombongkan diri di atas bumi melainkan untuk beribadah kepada Allah SWT.
Apapun yang kita lakukan di muka bumi ini semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT.
DAFTAR PUSTAKA
Najati, M. Utsman, al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, Bandung: Pusaka, 1985.
Syukur, Amin, Pengantar Agama Islam, Semarang: CV. Bima Sejati, 2006.
Yahya, Imam, bin Hamzah, Kiat Mengendalikan Nafsu, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2001.

Minggu, 05 Desember 2010

Allah Mencintai Seorang Hamba Yang Bertaqwa, Besar Hati Dan Merahasiakan Ibadahnya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إن الله يحب العبد التقي الغني الخفي .

“ Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, besar hati lagi merahasiakan ibadahnya“[1]

Hamba yang bertaqwa : Adalah seorang hamba yang beriman kepada perkara ghaib, mendirikan shalat, meninfakkan harta yang Allah rizkikan kepadanya, beriman dengan segala yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang diturunkan kepada Rasul sebelum beliau, meyakini akan adanya hari akhirat, menepati janjinya, menjauhi segala yang Allah haramkan, taat kepada Allah dan mengikuti syari’at-Nya yang dengan syari’at tersebut Allah telah mengutus penutup para Rasul-Nya dan penghulu mereka …

Kebesaran Hati : dimaksud adalah kekayaan jiwa, inilah kekayaan yang dicintai, berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

ولكن الغني غني النفس.

“ Akan tetapi yang dimaksud dengan kekayaan adalah kekayaan jiwa “[2]

Ibnu Baththal mengatakan : “ Makna dari hadits tersebut, bukanlah kekayaan diukur dengan banyaknya harta dikarenakan sebagian besar orang yang Allah berikan kelapangan harta baginya tidak merasa berkecukupan dengan apa yang diberikan kepadanya, sehingga dia bersungguh-sungguh dalam mencari tambahan dan tidak memperdulikan dari mana dia memperolehnya, seolah-olah dia bagai seorang yang fakir akibat keseriusannya dalam mencari harta. Melainkan kekayaan yang sebenarnya adalah kebesaran/kekayaan jiwa, yaitu yang merasa cukup dan puas dengan apa yang diberikan kepadanya dan ridha serta tidak demikian serius dalam mencari tambahan harta dan tidak pula rakus dalam menuntut harta benda. Seolah-olah dia seorang yang kaya raya “.

Al-Qurthubi mengatakan : “ Makna hadits tersebut, bahwa kekayaan yang memberi manfaat atau yang bernilai sangat besar atau yang terpuji adalah kekayaan jiwa “. Ulasannya bahwa jikalau jiwanya telah berkecukupan , niscaya akan menahan diri dari sikap tamak, dengan begitu jiwanya akan meraih kemuliaan dan semakin agung dan akan mendapatkan kehormatan, kesucian, kemuliaan, pujian lebih banyak dari pada seorang yang jiwanya fakir karena kemauan untuk meraih harta, karena hal seperti itu akan menjerumuskan pada perkara-perkara yang hina dan perbuatan-perbuatan yang rendah karena kemauannya yang rendah dan sikap bakhil pada dirinya. Dan akan banyak dari kaum manusia yang akan mencelanya dan kedudukannya akan menjadi kerdil dihadapan mereka, sehingga dia akan lebih hina dina dari pada seorang yang hina dan akan sangat rendah dari pada setiap orang yang rendah.

Kesimpulannya, bahwa seseorang yang memiliki sifat jiwa yang besar akan menjadi seorang yang puas dengan rizki Allah tidak lah memiliki kehendak untuk mencari tambahan yang tidak dibutuhkannya dan tidak juga rakus dalam mengusahakan tambahan harta, dan tidak merasa kepuasan dalam setiap permintaannya. Melainkan dia ridha dengan pembagian Allah bagi dirinya, layaknya dia telah mendapatkannya untuk selamanya. Sedangkan seseorang yang memiliki sifat jiwa yang miskin berkebalikan dengan yang sebelumnya, karena dia tidak akan merasa puas dengan yang diberikan kepadanya, bahkan dia selamanya akan mengupayakan tambahan dari setiap peluang yang memungkinkan baginya, karena dia tidak merasa cukup dengan yang telah diberikan kepadanya, seolah-olah dia bukan seorang yang kaya raya. Selanjutnya pula, kekayaan jiwa ini muncul dari sifat ridha dengan segala ketentuan Allah ta’ala dan berserah diri kepada segala keputusan-Nya, karena mengetahui bahwa yang ada disisi Allah jauh lebih baik dan kekal. Dia akan berpaling dari segala upaya dan usaha mencari tambahan harta. Ath-Thibi mengatakan : Mungkin yang dimaksud dengan kekayaan jiwa adalah tercapainya segala kematangan ilmiyah dan amaliyah, yang diisyaratkan oleh sorang penyair didalam sya’irnya :

ومن ينفق الساعات في جمع ماله مخافة فقر فالذي فعل الفقر

Dan siapa saja yang menginfakkan sebagian besar waktu luangnya untuk mengumpulkan harta

. Karena takut akan kemiskinan, maka dialah yang telah melakukan perbuatan kemiskinan tersebut.

Maksudnya bahwa dia sepantasnya menginfakkan waktunya untuk meraih kekayaan yang sebenarnya yaitu pencapaian segala kematangan ilmiyah dan amaliyah, bukan dengan mengumpulkan harta benda, karena perbuatan itu tidaklah menambah sesuatu baginya kecuali kemiskinan”.

Ibnu Hajar mengatakan : “ Pendapat ini, walaupun mungkin juga seperti ini maksud hadits tersebut, akan tetapi pendapat sebelumnya lebih tepat menunjukkan maksud hadits. Dan kekayaan jiwa seseorang akan tercapai dengan kekayaan hatinya, yaitu dengan merasa butuh kepada Rabb-nya pada setiap perkaranya dan membenarkan bahwa Dialah Dzat yang Maha pemberi dan yang Maha menahan sesuatu, dengan begitu dia akan ridha dengan segala keputusan-Nya dan bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat pemberian-Nya dan bersegera kembali kepada-Nya dalam menepis setiap kemudharatan yang menimpa dirinya. Maka dari rasa butuh didalam hati kepada Allah akan timbul kecukupan pada dirinya tidak lagi membutuhkan selain Rabbnya ta’ala. Adapun kekayaan yang tercantum didalam firman-Nya ta’ala :

“ Dan Dia mendapati engkau dalam keadaan papah lalu membuatmu berkecukupan “[3]

Turunannya pada kekayaan diri, dikarenakan ayat tersbeut adalah ayat Makkiyah, dan bukan suatu yang tersembunyi betapa keadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum takluknya daerah Khaibar dan wilayah lainnya, yang beliau dalam keadaan sangat sedikit memiliki harta, wallahu a’la.

Al-Khafi : Yaitu seseorang yang tidak menampakkan peribadatannya dan memutuskan dirinya demi peribadatan dan menyibukkan diri pada perkara-perkara yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

رب أشعث مدفوع بالأبواب لو أقسم على الله لأبره .

“ Bisa saja seseorang yang yang rambutnya kusut terurai menjaga pintu-pintu, sekiranya dia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan memuliakannya “[4]

Seseorang yang kusut rambutnya, adalah seseorang yangmembiarkan rambutnya terurai tak terurus dan beruban, tidak diberi minyak dan tidka disisir. Yang dimaksud menjaga pintu-pintu, adalah ketidakmampuan yang ada pada dirinya ditengah-tengah kaum manusia, dimana kaum manusia menghalaunya dari pintu-puntu kediaman mereka karena menganggap remeh orang tersebut. Dan sekiranya dia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan memuliakannya, maksudnya : seandainya dia bersumpah agas sesuatu terjadi , niscaya Allah akan memenuhi sumpahnya , sebagai bentuk pemuliaan Allah bagi orang tersebut dengan mengabulkan permintaannya dan menjaganya agar tidak melanggar sumpahnya. Hal ini, karenatingginya kedudukan orang tersebut disisi Allah ta’ala walau dia hina menurut anggapan kaum manusia.Ada yang berpendapat bahwa makna sumpah pada hadits diatas adalah doa, dan makna Allah akan memuliakannya yaitu mengabulkan doanya.[5]

Sesungguhnya Allah mencitai orang-orang yang bertaqwa lagi menyembunyikan amal-amal ibadahnya yang mana apabila dia dalam keadaan menghilang tak menampakkan diri maka sebenrnya dia tidaklah menghilangkan dirinya dan apabila dia hadir maka dia tidak dikenali. Dia tidak menampakkan kebaikan yang dikerjakannya, amal perbuataan dan ilmunya. Tidak mengharap penghormatan dihati-hati setiap makhluk , dan merasa puas dengan pengawasan Allah pada setiap ketaatan yang diperbuatnya tanpa memperdulikan perhatian makhluk. Merasa puas dengan pujian Allah dan tidak membutuhkan pujian manusia, tidak suka apabila terkenal dan lebih menyenangi untuk tidak disebut sama sekali.

Kenapa Harus Sedih Saat Bersedih?

Semua orang pasti pernah merasa SEDIH, teman Anda, kerabat Anda, orang tua Anda, Anda sendiri, maupun saya sendiri pernah merasakannya.Banyak hal yang dapat memicu kita untuk merasakan kesedihan. Jika ditanya apakah yang menyebabkan seseorang itu bersedih, jawaban setiap orang pasti berbeda-beda mengingat permasalahan hidup yang dihadapi mereka berbeda juga. Kadang kita tahu betul apa yang membuat kita bersedih, namun kadang juga kita tidak mengetahui penyebab kesedihan kita. Salah seorang teman saya sering mengeluh "Terlalu banyak hal yang membuat saya sedih, mungkin hal yang paling membuat saya sedih adalah hidup saya sendiri, rasanya saya tidak ingin hidup lebih lama lagi". Wah rasanya kata-kata seperti sudah seringkali terucap jika kita merasakan kesedihan yang mendalam. Dan jika Anda kebetulan sedang mengalami perasaan yang sama seperti teman saya, saya harap Anda jangan berpikiran untuk mengakhiri hidup Anda sekarang, paling tidak selesaikan terlebih dahulu membaca tulisan saya.

KESEDIHAN adalah suasana hati yang sangat ingin kita jauhi, sebisa mungkin dalam menjalani kehidupan kita mengusir jauh-jauh yang namanya kesedihan, pasti semua orang ingin merasakan perasaan yang sebaliknya bukan? Kebahagiaan tentunya. Namun, jika kita mau memandang suatu kesedihan dari sisi lain, kita akan menemukan sebuah manfaat. Kesedihan juga mengandung energi-energi positif yang dapat menimbulkan kebahagian jika kita dapat mengelolanya dengan benar. Pada umumnya kesedihan menutup minat kita terhadap hiburan dan kesenangan, membuat perhatian kita terpusat pada apa yang telah hilang. Yang pada dasarnya perlakuan seperti itu sebenarnya merupakan penghimpunan energi kita agar kita dapat memulai langkah-langkah baru. Artinya kesedihan memaksa kita untuk berhenti dari kepenatan duniawi dan membuat perhatian kita terfokus terhadap kehilangan tersebut, merenungkan hikmahnya, dan pada akhirnya membuat penyesuaian-penyesuaian psikologis serta menyusun rencana-rencana baru yang akan memungkinkan hidup kita terus berjalan. Berduka itu bermanfaat tetapi depresi yang berkelanjutan adalah sia-sia.

Yang Lalu Biar Berlalu

Jangan hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung gelap masa silam.Selamatkan diri anda dari bayangan masa lalu! Apakah anda ingin mengembalikan air sungai ke hulu , matahari ke tempatnya terbit , seorok bayi ke perut ibunya, air susu ke payudara sang ibu, dan air mata ke dalam kelopak mata ? Ingatlah , keterikatan anda dengan masa lalu, keresahan Anda atas apa yng telah terjadi pada masa lalu, adalah kondisi yang sangat naif, memprihatinkan dan menakutkan. Membaca kembali lembaran pahit masa lalu, hanya akan memupuskan masa depan, mengendurkan semangat dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga Adalah bencana besar, manakala kita rela mengabaikan masa depan dan justru hanya disibukkan dengan memikirkan masa lalu. Itu sama halnya dengan mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puing-puing yang telah lapuk. Padahal betapapun seluruh manusia dan jin bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu,niscaya mereka tidak akan mampu. Sebab yang demikian itu sudah mustahil pada asalnya. Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melihat sedikitpun ke belakang. Pasalnya , angin akan selalu berhembus ke depan, air akan mengalir ke depan, setiap kafilah akan bergerak ke depan, dan segala sesuatu bergerak maju ke depan. Maka dari itu , janganlah melawan sunnah kehidupan.
Published by Qisthi Press Duren Sawit Jakarta Timur Mail : qisthipress@hotmail.com

Wasiat Nasehat Imam Syafi’i

• Seseorang yang mencoba melakukan apa-apa yang dilarang Allah swt selain dosa syirik, masih lebih daripada dia berfikir dengan pandangan ilmu kalam.
• Jika aku melihat seseorang yang ahli hadits, seakan-akan aku melihat seseorang dari sahabat Nabi saw. Mereka telah menjaga untuk kita keaslian sunnah Nabi Muhammad saw, maka mereka berhak mendapat pujian dari kita. Dan fiqih adalah tuannya ilmu, karena dengannnya hadits dapat dipahami.

• Tujuan dari ilmu adalah mengamalkannya, maka ilmu yang hakiki adalah yang terefleksikan dalam kehidupannya, bukannya yang bertengger di kepala.

• Satu hal yang dapat menyia-nyiakan orang yang berilmu dan yang dapat menghilangkan posisinya sebagai seorang ‘alim adalah ketika ia tidak mempunyai kawan.

• Jangan sekali-kali kamu tinggal di suatu Negara atau tempat yang yang disana tidak ada orang yang ahli dibidang fiqih sebagai tempat kamu untuk menanyakan masalah agama, dan juga tidak ada dokter yang dapat menjelaskan kondisi kesehatanmu.

• Tidak ada satupun ilmu yang ingin aku pelajari setelah aku memahami tentang masalah halal dan haram, kecuali ilmu kedokteran, tapi mengapa kita jauh terbelakang disbanding dengan orang-orang nasrani?

• Jika engkau melihat seseorang berjalan di atas air dan bisa terbang di udara, maka janganlah kehebatan itu menjadikan kalian lengah dan terheran-heran kepadanya sampai kamu mengetahui secara persis atas apa yang di kerjakannya itu berlandaskan pada Al-Qur’an dan as-sunnah.

• Jika rasa ujub menghinggapi aktifitasmu, maka lihatlah keridhaan siapa yang kau harapkan, pahala mana yang kau suka, sanksi mana yang kau benci. Maka jika engkau memikirkan satu di antara kedua hal ini, niscaya akan hadir di depan matamu apa yang sudah kamu lakukan.• Tawadhu’ adalah perkara yang sangat diidam-idamkan. Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak melihat kedudukannya sendiri. Akan tetapi tawadhu’ dihadapan orang yang tidak bisa menghargai orang lain merupakan bentuk kezhaliman terhadap diri sendiri.

• Menghindarkan telinga dari mendengar hal-hal yang tidak baik merupakan suatu keharusan, sebagaimana seseorang mensucikan tutur katanya dari ungkapan buruk.• Kedermawanan dan kemuliaan adalah dua hal yang dapat menutupi aib.

• Kesabaran adalah akhlak mulia, yang dengannya setiap orang dapat menghalau segala rintangan.• Takabur ( sombong ) adalah akhlak tercela.

• Bid’ah itu terbagi menjadi dua macam : segala sesuatu yang baru dan tidak sejalan dengan kitab, sunnah, atsar, ijma’ itu merupakan bid’ah dhalalah ( bid’ah yang sesat ). Sementara jika sesuatu yang baru itu tidak berseberangan dengan Al-Qur’an, hadits, atsar dan ijma’, maka sesuatu yang baru itu disebut bid’ah hasanah ( bid’ah yang baik ).

• Cukuplah ilmu itu menjadi keutamaan bagi seseorang, ia bangga manakala disebut sebagai orang berilmu. Ia juga disebut bodoh manakala meninggalkan bagian dari pengetahuannya, dan jika kata bodoh itu ditujukan kepadanya, tentu ia akan marah.

• Pekerjaan terberat itu ada tiga ; Sikap dermawan di saat dalam keadaan sempit; Menjauhi dosa di kala sendiri; Berkata benar di hadapan orang yang ditakuti.

• Barangsiapa yang ingin menjadi seorang pemimpin, niscaya kedudukan yang didambakannya itu akan meninggalkannya, dan jika ia telah menduduki jabatan, maka ia akan ditinggalkan banyak ilmu.

• Yang paling nampak pada diri manusia adalah kelemahannya, maka barangsiapa melihat kelemahan dirinya sendiri, ia akan menggapai keistiqamahan terhadap perintah Allah swt.

• Dunia adalah tempat yang licin nan menggelincirkan, rumah yang hina, bangunan-bangunannya akan runtuh, penghuninya akan beralih ke kuburan, perpisahan dengannya adalah sesuatu keniscayaan, kekayaan di dunia sewaktu-waktu bisa berubah menjadi kemiskinan, bermegah-megahan adalah suatu kerugian, maka memohonlah perlindungan Allah swt, terimalah dengan hati yang lapang segala karunia-Nya. Jangan terpesona dengan kehidupanmu di dunia sehingga meninggalkan kehidupan Akhirat. Ketahuilah, sesungguhnya hidupmu di dunia akan sirna, dindingnya juga miring dan hancur, maka perbanyaklah perbuatan baik dan jangan terlalu banyak berangan-angan.

• Menganggap benar dengan hanya satu pandangan merupakan suatu bentuk ketertipuan. Berpegangan dengan suatu pendapat itu lebih selamat daripada berkelebihan dan penyesalan. Melihat dan berpikir, keduanya akan menyingkap keteguhan hati dan kecerdasan. Bermusyawarah dengan orang bijak merupakan bentuk kemantapan jiwa dan kekuatan mata hati. Maka, berpikirlah sebelum menentukan suatu ketetapan, atur strategi sebelum menyerang, dan musyawarahkan terlebih dahulu sebelum melangkah maju ke depan.

• Kebaikan itu ada di lima perkara : kekayaan hati, bersabar atas kejelekan orang lain, mengais rezeki yang halal, taqwa, dan yakin akan janji Allah swt.

• Pilar kepemimpinan itu ada lima : perkataan yang benar, menyimpan rahasia, menepati janji, senantiasa memberi nasihat dan menunuaikan amanah.

• Keluarga manapun yang wanita-wanitanya tidak pernah bertemu dengan laki-laki yang bukan anggota keluarga, dan laki-lakinya tidak pernah bertemu dengan wanita-wanita yang bukan dari keluarganya, niscaya akan ada dari anak-anak mereka yang bodoh.

• Keridhaan semua manusia adalah satu hal yang mustahil untuk dicapai, dan tidak ada jalan untuk terselamatkan dari lidah mereka, maka lakukanlah apa yang bermanfaat untuk dirimu dan berpegang teguhlah dengannya.

• Kesia-siaan seorang Alim adalah ketika dia tidak mempunyai kawan, dan kesia-siaan seorang yang bodoh adalah pikirannya yang dangkal. Dan yang lebih sia-sia dari keduanya adalah seorang yang punya kawan namun tak berakal.

• Barangsiapa yang dipancing untuk marah, namun ia tidak marah, maka dia tak ubahnya keledai, dan barangsiapa yang diminta keridhaannya namun tidak ridha, maka dia adalah syetan.

• Terimalah dariku tiga hal : a. Jangan berbicara panjang lebar tentang sesuatu yang tidak baik perihal Sahabat Rasulullah saw, karena kelak Rasulullah saw nantinya yang akan menjadi seterumu.b. Janganlah kamu sibukkan dirimu dengan ilmu kalam, sesungguhnya aku telah melakukan kajian dengan ahli ilmu kalam dan mereka telah melakukan ta’thil ( meniadakan sifat Allah swt ). c. Dan jangan menyibukkan dirimu dalam nujum ( ramalan dengan bintang ).• Kenyang itu akan membuat badan jadi berat, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, mengajak tidur dan melemahkan ibadah.

• Engkau harus berlaku Zuhud, sesungguhnya zuhudnya orang yang zuhud itu lebih baik dari perhiasan yang ada pada tubuh wanita yang menawan.

• Dasar ilmu adalah kemantapan dan buahnya adalah keselamatan. Dasar Wara’ ( menjaga diri dari sesuatu yang meragukan ) adalah Qona’ah ( menerima karunia Allah swt dengan dada yang lapang ) dan buahnya adalah ketenangan batin. Dasar Kesabaran adalah keteguhan hati dan buahnya adalah kemenangan. Dasar suatu Aktifitas adalah Taufiq ( pertolongan Allah swt ) dan buahnya adalah kesuksesan. Dasar Tujuan akhir dari segala Perkara adalah Shidiq ( benar ).

• Terlalu keras dan menutup diri terhadap orang lain akan mendatangkan musuh, dan terlalu terbuka juga akan mendatangkan kawan yang tidak baik, maka posisikan dirimu di antara keduanya.

• Jadikanlah diam sebagai sarana atas pembicaraanmu, dan tentukan sikap dengan berfikir.

• Manusia yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak melihat kedudukan dirinya, dan manusia yang paling banyak memiliki kelebihan adalah mereka yang tidak melihat kelebihan dirinya.

• Jika engkau mendengar sesuatu yang engkau benci tentang sahabatmu, maka jangan tergesa-gesa untuk memusuhinya, memutus tali persahabatan, dan kamu menjadi orang yang telah menghilangkan suatu keyakinan dengan keraguan. Tetapi temuilah dia! Dan katakan kepadanya, “Aku mendengar kamu melakukan ini dan itu….?” Tentunya dengan tanpa memberitahukan kepadanya siapa yang memberi informasi kepadamu. Jika ia mengingkarinya, maka katakana kepadanya, “Kamu lebih jujur dan lebih baik”, cukup kalimat itu saja dan jangan menambahi kalimat apapun. Namun jika ia mengakui hal itu, dan ia mengemukakan argumentasinya akan hal itu, maka terimalah.

• Sesungguhnya Hasad itu terlahir dari suatu kehinaan, lekatnya tabiat, perubahan struktur tubuhnya, runtuhnya temperatur tubuh dan lemahnya daya nalarnya.
• Orang yang paling Zhalim adalah mereka yang melakukan kezhaliman itu pada dirinya sendiri. Bentuk kezhaliman itu adalah :o orang yang bersikap tawadhu’ ( rendah hati ) di depan orang yang tidak menghargainya.o menumpahkan kasih sayangnya kepada orang yang tidak ada nilai manfaat.o mendapat pujian dari orang yang tidak dikenalnya.

• Siapa yang menginginkan khusnul khotimah dipenghujung umurnya, hendaknya ia berprasangka baik kepada manusia.

• Bersihkan pendengaran kalian dari hal-hal yang tidak baik, sebagaimana kalian membersihkan mulut kalian dari kata-kata kotor, sesungguhnya orang yang mendengar itu tidak jauh berbeda dengan yang berucap. Sesungguhnya orang bodoh itu melihat sesuatu yang paling jelek dalam dirinya, kemudian ia berkeinginan untuk menumpahkannya dalam diri kalian, andaikan kalimat yang terlontarkan dari orang bodoh itu dikembalikan kepadanya, niscaya orang yang mengembalikan itu akan merasa bahagia, begitu juga dengan kehinaan bagi orang yang melontarkannya.

• Orang yang mengkaji ilmu faraid, dan sampai pada puncaknya, maka akan tampil sebagai sosok orang yang ahli berhitung. Adapun ilmu hadits, itu akan tampak nilai keberkahan dan kebaikannya pada saat tutup usia. Adapun ilmu fiqih merupakan ilmu yang berlaku bagi semua kalangan baik muda maupun yang tua, karena fiqih merupakan pondasi dasar dari segala ilmu.• Di antara orang yang tidak mempunyai harga diri adalah mereka yang dengan mudahnya memberitahukan usianya kepada orang lain, karena kalau usianya lebih muda, tentu mereka akan menganggapnya rendah dan jika usianya lebih tua, tentu mereka akan beranggapan bahwa ia sudah pikun.

• Peranti terbentuknya harga diri itu ada empat : kemuliaan akhlak, kedermawanan, sikap santun dan ibadah ( yang istiqamah ).

• Tidak termasuk saudaramu orang yang senang mencari muka di hadapanmu.

• Tidak ada seorangpun yang hidup dengan tanpa adanya orang yang dicintai dan orang yang dibenci, kalau memang demikian realitasnya, maka hendaknya ia senantiasa bersama orang-orang yang taat kepada Allah swt.

• Jika telah ada akar yang tertanam dalam kalbu, maka lidah akan berperan sebagai pemberi kabar cabangnya.

• Karakter umum manusia adalah pelit, termasuk hal yang menjadi kebiasaannya adalah apabila ada orang yang mendekatinya, maka ia akan menjauhinya, dan apabila ada orang yang menjauh darinya, iapun akan mendekati orang itu.

• Siapa yang memberi nasehat saudaranya di tempat yang sunyi, maka ia telah melakukan perbaikan pada dirinya, dan siapa yang memberi nasehat saudaranya di tempat keramaian, sesungguhnya ia membuka aib dan menghianatinya.
• Seorang bijak menulis kepada seorang bijak lainnya : “wahai saudaraku, engkau telah dianugerahi ilmu, maka janganlah kamu kotori ilmumu dengan gelapnya dosa, sehingga kamu berada dalam kegelapan di saat para ahli ilmu berjalan dengan suluh ilmunya.

• Barangsiapa menghendaki akhirat, maka hendaknya ia ikhlas dalam mencari ilmu.

• Kepandaian itu ada dalam masalah agama, bukan dalam masalah keturunan, kalau saja kepandaian diukur dalam masalah keturunan, maka tak ada satu orang pun yang cakap seperti Fatimah putri Rasulullah saw dan putri-putri beliau yang lain.
• Tidak ada orang yang mencari ilmu yang disertai dengan kemalasan; dan kekayaan menjadikan seseorang beruntung, namun keberuntungan itu akan melekat dalam diri orang yang senantiasa mencari ilmu dengan disertai semangat yang tinggi dan prihatin sreta bersanding selalu dengan Ulama.
• Ilmu tidak akan dapat diraih kecuali dengan ketabahan.

• Janganlah kamu berkonsultasi kepada orang yang di rumahnya tidak terdapat makanan, karena hal tersebut menandakan tidak berfungsinya akal mereka.

• Bukanlah orang yang berakal itu manakala dihadapkan kepadanya perkara yang baik dan perkara yang buruk, lantas ia memilih yang baik, akan tetapi dikatakan orang berakal apabila dihadapkan kepadanya dua hal yang buruk lantas ia memilih yang paling ringan keburukannya di antara keduanya.

• Besarnya rasa takut itu sesuai dengan kapasitas ilmunya. Tiada seorang alim pun yang ia takuti kecuali kepada Allah swt. Yang merasa aman akan marah Allah swt, dialah si-jahil. Yang merasa takut akan marah Allah swt, dialah si-arif.
• Andaikan semua manusia memikirkan kandungan isi surah al-Ashr, tentu mereka akan merasa cukup dengannnya.• Kalau aku melihat orang yang suka mengikuti hawa nafsunya, walaupun ia berjalan di atas air, aku tidak akan menemuinya.

• Barangsiapa mempelajari Al-Qur’an, maka mulia nilainya. Barangsiapa berbicara tentang fiqih, maka akan berkembang kemampuannya. Barangsiapa menulis hadits, maka akan kuat hujjahnya. Barangsiapa mengkaji bahasa, maka akan lembut tabiatnya. Barangsiapa mengkaji ilmu hitung, maka akan sehat pikirannya. Barangsiapa tidak menjaga jiwanya, maka ilmunya tidak akan berguna baginya.

• Perdebatan dalam agama akan mengeraskan hati dan menimbulkan rasa dendam.

• Tiada aib dalam diri Para Ulama yang lebih buruk dari kesenangan mereka terhadap apa yang Allah swt perintahkan kepada mereka untuk berlaku zuhud terhadapnya.

• Setiap orang yang berbicara dengan berlandaskan pada Al-Qur’an dan Al-Hadits itulah orang orang yang bersungguh-sungguh, sementara orang yang berbicara dengan tanpa landasan dari keduanya itu merupakan bualan saja.

• Pondasi dasar adalah Al-Qur’an dan as-Sunnah. Jika tidak didapati dari keduanya, maka Qiyaslah berlaku. Jika hadits itu shahih, itulah yang disebut sunnah. Ijma’ itu lebih bisa dipertanggung jawabkan daripada hadits ahad. Yang diambil dari hadits itu adalah teksnya, namun jika hadits tersebut mengandung banyak penafsiran, maka carilah yang mendekati makna teksnya.

• Mencari ilmu lebih utama daripada shalat sunnah. Mempelajari hadits itu lebih baik daripada shalat tathawwu.

• Ilmu terbagi dua ; ilmu kesehatan dan ilmu agama. Yang dimaksud dengan ilmu agama disini adalah ilmu fiqih, sementara ilmu kesehatan adalah ilmu kedokteran.

• Orang yang pandai akan bertanya tentang apa yang ia ketahui dan tidak ia ketahui. Dengan menanyakan apa yang ia ketahui, maka ia akan semakin mantap, dan dengan menanyakan apa yang belum ia ketahui, maka ia akan menjadi tahu. Sementara orang bodoh itu meluapkan kemarahannya karena ( sulitnya ) ia belajar, dan tidak menyukai pelajaran.• Sejelek-jelek bekal menuju ke alam akhirat adalah permusuhan dengan sesamanya.

• Kaji dan dalamilah sebelum engkau menduduki jabatan, karena kalau engkau telah mendudukinya, maka tidak ada kesempatan bagimu untuk mengkaji dan mendalaminya.• Pelajarilah dengan teliti suatu pengetahuan, agar engkau tidak kehilangan kedalaman arti kandungannya.

• Pesona para ulama adalah jiwa yang mulia dan sebagai penghias pengetahuan yang dimilikinya adalah wara’ ( menjauhkan diri dari sesuatu yang belum jelas ) dan berlaku bijak.

• Siapa yang merasa bahwa dalam dirinya terkumpul dua cinta, cinta dunia dan cinta kepada penciptanya, maka ia telah berdusta.

• Ketahuilah bahwa orang yang jujur kepada Allah swt, ia akan selamat. Barangsiapa yang bersemangat dengan agamanya, ia pun akan selamat dari kerusakan, dan barangsiapa yang berlaku zuhud dengan urusan dunianya, niscaya kelak pahala Allah swt, akan nampak indah di matanya.

• Barangsiapa terkumpul dalam dirinya tiga sifat, maka imannya telah sempurna : orang yang menyeru kepada kebaikan dan dia juga melaksanakannya, melarang pada perbuatan buruk dan dia tidak melakukannya serta menjaga aturan-aturan yang telah Allah swt tetapkan.

• Berlakulah zuhud dalam menjalani hidup di dunia, dan cintailah kehidupan akhirat dan barangsiapa harum bau ( badan )nya, maka kecerdasannya akan semakin bertambah.

• Suatu keharusan bagi orang yang ‘alim adalah zikir dari setiap aktifitasnya yang dengannya akan terjalin komunikasi antara dirinya dengan Allah swt.

• Jikalau seseorang dari kalian berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai keridhaan setiap orang, niscaya ia tidak akan menemukan jalannya; maka hendaklah seorang hamba mengikhlaskan amalannya ke haribaan Allah swt.

• Tidak ada yang tahu tentang riya, kecuali orang yang ikhlas.

• Tak pantas, siapapun mengatakan halal dan haram kecuali berlandaskan pada pengetahuan. Dan ilmu itu adalah apa yang yang tertulis dalam Al-Qur’an, hadits, ijma’ ataupun qiyas. Dari dasar inilah kesemuanya akan terungkap maknanya.

• Keutamaan itu ada empat : Pertama : hikmah, dan penopangnya adalah pemikiran.Kedua : iffah ( menjaga harga diri ), dan penopangnya adalah syahwat.Ketiga : kekuatan, penopangnya adalah kemarahan.Keempat : adil, penopangnya adalah kekuatan jiwa.

• Kefaqiran Ulama adalah ikhtiar ( usaha ) dan kefaqiran orang-orang bodoh adalah goncangan jiwanya.• Barangsiapa yang tidak dimuliakan karena ketaqwaannya, maka dia tidak memiliki harga diri.

• Mencari-cari kelebihan materi di dunia adalah hukuman yang Allah swt timpakan kepada ahli Tauhid.

• Barangsiapa benar dalam berukhuwah dengan saudaranya, maka kekurangannya akan diterima, kelemahannya akan ditutup dan kesalahan-kesalahannya dimaafkan.

• Barangsiapa mengadu domba untuk kepentinganmu, maka dia akan mengadu domba dirimu; dan barangsiapa menyampaikan fitnah kepadamu, maka ia akan memfitnahmu.

• Barangsiapa jika engkau menyenangkannya, dia berkata : pada dirimu ada yang bukan milikmu. Begitu juga ketika kau membuatnya marah, dia berkata : pada dirimu ada yang bukan milikmu.

• Tak akan sempurna ( akal ) seorang laki-laki, kecuali dengan empat hal; beragama, amanah, pemeliharaan dan penjagaan diri, serta ketenangan dan ketabahan.

• Rendah hati adalah akhlaqnya mulia, sedang kesombongan adalah kebiasaan orang tercela. Rendah hati akan menumbuhkan kecintaan dan lapang dada menerima pemberian Allah swt akan melahirkan ketenangan jiwa.

• Andaikan aku ditakdirkan mampu menyuapkan ilmu kepadamu, pasti kusuapi engkau dengan ilmu.• Aku akan merasa bahagia, jika semua orang mempelajari ilmu ini, dan sama sekali tidak menyandarkannya padaku.
• Betapa aku senang, jika semua ilmu yang aku ketahui dimengerti oleh semua orang, maka dengannya aku mendapat pahala, meskipun mereka tidak memujiku.

• Menuntut ilmu membutuhkan tiga hal : memiliki keterampilan, umur ( waktu ) yang panjang dan mempunyai kecerdasan.• Sebaik-baik harta simpanan adalah taqwa, dan sejelek-jeleknya adalah sikap permusuhan.• Siasat manusia jauh lebih dahsyat dari siasat binatang.

• Orang yang berakal adalah mereka yang dapat menjaga dirinya dari segala perbuatan tercela.

• Seorang hamba yang terjatuh pada perbuatan dosa selain dosa syirik itu lebih baik daripada ia terkungkung oleh hawa nafsunya.

• Barangsiapa yang dirinya terkalahkan oleh kuatnya syahwat dunia, maka ia akan senantiasa menjadi budak ahli dunia; dan barangsiapa yang qana’ah ( menerima karunianya dengan lapang dada ) maka akan hilang ketundukannya pada dunia.
• Tiada kebahagiaan yang menyamai persahabatan dengan saudara yang satu keyakinan, dan tiada kesedihan yang menyamai perpisahan dengan mereka.

• Berapa banyak orang yang telah berbuat kebajikan kepadamu yang membuatmu terbelenggu dengannya, dan berapa banyak orang yang memperlakukanmu dengan kasar dan ia memberi kebebasan kepadamu.
• Barangsiapa yang menghargai dirinya melebihi kapasitasnya, maka Allah swt akan mengembalikannya kepada nilai sesungguhnya dalam dirinya.
• Barangsiapa berhias diri dengan kebatilan, maka Allah swt akan membuka penutup kejelekannya.

• Hendaklah ada bersama ahli fiqih seorang yang bodoh, sehingga ia dapat memberi pelajaran kepadanya.
• Yang menjadi pengganti Nabi Muhammad saw itu ada lima : Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq, Sayyidina Umar bin Khattab, Sayyidina Utsman bin Affan, Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidina Umar bin Abdul Aziz.
• Barangsiapa yang ditertawakan karena suatu masalah, maka ia tidak akan pernah melupakan masalah tersebut.
• Tingkat tertinggi para Ulama adalah ketaqwaan, perhiasan mereka adalah akhlaq mulia dan pesona mereka adalah jiwa yang agung.

• Jika kalian melihat kitab yang didalamnya ada catatan tambahan dan perbaikan, maka lihatlah kebenaran yang ada didalamnya.
• Mereka yang menguasai bahasa arab adalah jin yang berupa manusia, mereka melihat apa yang tidak dilihat orang lain.
• Sesungguhnya akal itu punya batas maximal, sebagaimana mata juga mempunyai batas pandang maximal.

• Orang yang selalu menjaga dirinya akan senantiasa bersungguh-sungguh.
• Pertolongan adalah zakatnya muru’ah.
• Jika terdapat banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, maka mulailah dari yang terpenting dan mendesak.
• Barangsiapa menyimpan rahasianya, maka kebaikan ada di tangannya.

• Siapa yang menghendaki kehidupan dunia, maka harus disertai dengan ilmu; dan siapa menghendaki akherat, juga harus dengan ilmu.

Sabtu, 04 Desember 2010

Ikhwan oh Ikhwan

walaupun ga begitu rupawan
alias modal tampang pas pasan
tapi...tetep aje tebar senyuman


oh...ikhwan...
gayenye sich bisa ditebak n kliatan
jenggot melambai, baju koko, n celana goyang murahan
sesekali komat kamit sambil jalan (dzikir maksudnya)


oh...ikhwan...
nyarinya susah susah gampangkadang di masjid, mushola, kampus n skolahan
mungkin juga lagi nyari sampingan
buat biaya walimahan (he..he..he..)


oh..ikhwan
anehnya lo lagi jalan
ngukurin jalan ato lagi nyari koin wan?????
ow..ternyata lagi jaga pandangan


ikhwan..ikhwan..
lucunya kalo akhwat sedang berpapasan
langsung minggir, acuh tak acuh kayak musuhan
(gubrak!!!) apaan tuch wan???
eee.. ternyata jatuh ga liat ada selokan


oh..ikhwan..
apa semuanya begitu wan???
ada ga sich ikhwan yang jelalatan???
boleh ga sich "tepe-tepe" ke akhwat wan???


kan udah dibilangin morrobi dalam liqo'an!!
yg bukan ikhwan pasti ga ditunggu malaikat Ridwan
yg bukan ikhwan gampang buanget didapatkan
tapi...kalo ikhwan yang tebal iman..di cari butuh tantangan
krn ikhwan ga doyan perempuan
melainkan lebih memilih akhwat sebagai pasangan....

(anonymous)